konten social media

PESAN YANG KUAT

Ini tentang pesan yang akan disampaikan ke publik, terutama tentang pemilihan penulisan takarir (caption) dan/atau wara (copywriting) untuk konten media sosial. Sebagai contoh, wara untuk peringatan hari-hari besar.

 

Umumnya, konten yg berpotensi untuk dibagikan kembali adalah konten yang mempunyai pesan yang kuat. Untuk itu, sudah seharusnya pemilihan wara memberikan penekanan utama pada pesan apa yang sebenarnya akan disampaikan ke publik, bukan pada “seremoni” pengucapan, yang sebenarnya bisa menjadi prioritas berikutnya atau bahkan bisa tidak disebutkan sama sekali.

 

Secara sederhana, yang ingin ditonjolkan adalah semangatnya, bukan seremoninya.

 

Jika merujuk ke contoh Hari Kartini, harusnya bukan lagi (dan lagi) tulisan “Selamat Hari Kartini” yang dituliskan, tapi idealnya pesan yang bisa mewakili semangat peringatan Hari Kartini tersebut. Misalnya tentang emansipasi atau motivasi yang dimiliki oleh Kartini yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi generasi sekarang. Mungkin bisa disampaikan menjadi seperti ini: “Seperti Kartini, tidak seharusnya dinding-dinding rumah menghalangi kita untuk peduli kepada sesama manusia.”

 

 

Atau ada satu konten menarik juga yang kami kembangkan di Instagram. Meskipun dalam bahasa Inggris, ini bisa dikategorikan punya semangat yang senada dengan objektif yang dikemukakan di atas. “Celebrating our powerful SHEroes. / Here’s to strong women. May we know them. May we be them. May we raise them.”. Bahkan ini tanpa menyebutkan Kartini sama sekali.

 

Jadi, setidaknya menurut saya, ada dua hasil positif yang bisa didapatkan dari uraian di atas:

 

1. Menghindari waranya menjadi sekadar formalitas, yang terus berulang-ulang setiap tahun diucapkan, tapi miskin makna. Selain karena nyaris semua orang sudah mafhum bahwa hari tersebut adalah peringatan Hari Kartini, juga sekaligus menghindari kesia-siaan.

2. Selain agar pesan yang dimaksudkan itu bisa betul-betul bermakna dan dipahami pembaca, juga memberikan kemungkinan lebih besar jika konten ini ingin dibagikan kembali. Faktor utamanya tentu karena pesannya itu tanpa batas waktu (timeless), dan memungkinkan untuk dibagikan ulang kapan saja, bukan hanya di hari peringatan. Sebaliknya jika hanya sekadar seremoni, rentang untuk dibagikan kembali pastinya akan menjadi terbatas.

 

Jika bicara strategi konten di media sosial, pesan merek yang tepat akan bisa membantu sebuah konten layak untuk dibagikan kembali atau tidak. Jika pembaca melihat ada hubungan dan persona (affinity) dalam merek melalui konten tersebut, apalagi jika itu beresonansi langsung dengan mereka, potensi kemungkinan mereka untuk membaginya kembali akan semakin tinggi.

———

 

Ini baru bicara pesan, belum ke masalah ejaan. Sesederhana menghindari penulisan ejaan yang bertahun-tahun salah digunakan: Ramadan, bukan Ramadhan. Idulfitri, bukan Idul Fitri.

 

Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Jakarta, 24 Mei 2020

Valent Mustamin About the author

VP of Operations at Krona. Strategist by day, Writer/Editor by night

No Comments

Leave a Comment: