Title Image
manfaat linkedin untuk bisnis b2b

Manfaat LinkedIn untuk B2B: Peluang Besar yang Masih Banyak Terlewat

Krona sudah lebih dari 12 tahun berkecimpung di dunia digital marketing, khususnya menangani brand dan bisnis B2B lintas industri, mulai dari manufaktur, jasa profesional, teknologi, hingga energi. Selama itu, satu pola yang terus berulang adalah: 

 

banyak bisnis B2B sadar pentingnya digital, tetapi belum benar-benar memahami peran LinkedIn secara strategis.

 

Sebagian besar masih memandang LinkedIn sebatas “media sosial HR” atau “tempat cari kerja”. Padahal, dari perspektif seorang Dik Dik Fahruddin, Chief Digital Marketing Officer & Founder Krona Digital Marketing Agency, LinkedIn adalah salah satu aset Top of Funnel (TOFU) paling kuat untuk B2B saat ini, dan ironisnya, justru masih relatif sepi kompetisi.

 

Artikel ini kami tulis untuk membuka wawasan, terutama bagi decision maker, marketer, dan business owner B2B yang ingin membangun awareness jangka panjang, bukan sekadar mengejar lead instan.

 


Kenapa Manfaat LinkedIn Sangat Relevan untuk Bisnis B2B

 

Berbeda dengan platform sosial lainnya, LinkedIn lahir dan berkembang dalam konteks profesional. Orang membuka LinkedIn untuk tujuan yang sangat spesifik, seperti 

 

  • memperluas jaringan
  • memahami tren industri, 
  • mencari insight bisnis, 
  • belajar dari pengalaman profesional lain.

 

Dalam B2B, kita tidak menjual produk impulsif. Kita menjual solusi dengan nilai tinggi, risiko tinggi, dan proses pengambilan keputusan yang panjang. Keputusan ini membutuhkan kepercayaan dan relevansi, bukan sekadar exposure. Di sinilah manfaat LinkedIn untuk bisnis B2B menjadi sangat signifikan karena platform ini menyediakan konteks yang mendukung pembentukan trust tersebut

 

Dari pengalaman kami, banyak brand B2B sebenarnya sudah hadir di LinkedIn, tetapi kehadirannya bersifat pasif. Company page jarang diisi, konten terlalu formal, dan komunikasi terasa satu arah. Akibatnya, LinkedIn tidak pernah benar-benar berfungsi sebagai kanal strategis.


Dalam B2B, kita tidak menjual produk impulsif. Kita menjual kepercayaan, kapabilitas, dan relevansi. Dan itu semua membutuhkan konteks, yang justru sangat kuat di LinkedIn.

 

Dari pengalaman kami juga, banyak klien B2B sebenarnya sudah “hadir” di LinkedIn, tetapi:

 

  • Company page jarang di-update
  • Konten terlalu formal dan kaku
  • Fokusnya langsung ke jualan

 

Akibatnya, LinkedIn tidak pernah benar-benar bekerja sebagai channel strategis.

 


Kualitas Audiens bagi Marketer B2B

Salah satu manfaat terbesar LinkedIn untuk bisnis B2B adalah kualitas audiensnya. Anda tidak perlu menebak-nebak siapa yang membaca konten Anda. Profil pengguna di LinkedIn secara eksplisit menampilkan:

 

  • Jabatan
  • Industri
  • Level senioritas
  • Perusahaan

 

Artinya, ketika Anda membangun awareness di LinkedIn, kemungkinan besar yang melihat adalah:

 

  • Manager
  • Head of Department
  • Director
  • Bahkan C-level

 

Dalam siklus penjualan B2B yang panjang, awareness bukan soal viral. Awareness adalah soal masuk ke radar orang yang tepat, bahkan jauh sebelum mereka siap membeli.

 


LinkedIn dan Realita Buyer Journey B2B

 

Salah satu kesalahan terbesar dalam digital marketing B2B adalah memperlakukan buyer journey seperti B2C. Pada kenyataannya, B2B memiliki proses yang jauh lebih panjang dan kompleks. Banyak pemangku kepentingan terlibat, keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan risiko kegagalan sangat diperhitungkan.

 

Padahal, buyer journey B2B jauh lebih kompleks:

 

  • Banyak stakeholder terlibat
  • Keputusan berbasis risiko dan justifikasi
  • Prosesnya bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun

 

Di sinilah LinkedIn unggul sebagai channel TOFU. Platform ini memungkinkan brand untuk:

 

  • Mengedukasi pasar secara bertahap
  • Menanamkan positioning
  • Membangun kredibilitas sebelum ada kebutuhan eksplisit

 

kami sering mengatakan ke tim dan klien:

 

“Kalau brand Anda baru dikenal saat RFP keluar, itu sudah terlambat.”

 

LinkedIn membantu brand dikenal sebelum buyer sadar mereka butuh Anda.

 


Peluang Besar Manfaat LinkedIn yang Masih Banyak Terlewat Untuk Bisnis B2B

 

1. Company Page yang Dipandang Sebelah Mata

 

Banyak bisnis B2B membuat company page hanya sebagai formalitas. Logo ada, deskripsi singkat ada, lalu dibiarkan begitu saja.

 

Padahal, company page adalah etalase digital untuk:

 

  • Menunjukkan sudut pandang brand
  • Menampilkan kapabilitas secara halus
  • Mengomunikasikan value tanpa hard selling

 

Dalam konteks TOFU (Top of Funnel), company page bukan alat jualan. Ia adalah alat legitimasi: “Oh, brand ini aktif, relevan, dan paham industrinya.” Ini bukan tentang menjual produk, melainkan membangun persepsi awal yang positif.

 

2. Konten Edukatif yang Justru Minim Kompetisi

 

B2B sering takut membuat konten karena merasa “industri kami terlalu niche”.  Faktanya, justru karena niche, kompetisinya rendah. Konten yang performanya konsisten di LinkedIn B2B antara lain:

 

  • Insight tren industri
  • Perspektif terhadap isu pasar
  • Pelajaran dari proyek (tanpa buka rahasia klien)
  • Opini profesional berbasis pengalaman

 

Berdasarkan laporan LinkedIn B2B Institute & Edelman Thought Leadership Impact Study, 61% decision maker mengatakan thought leadership content secara langsung memengaruhi persepsi mereka terhadap sebuah brand. Ini menunjukkan bahwa konten edukatif bukan “nice to have”, tapi faktor pembentuk kepercayaan.

 

3. Personal Branding Bukan Milik Influencer Saja

 

Ini peluang yang menurut kami paling sering disia-siakan. Di banyak bisnis B2B, ada:

 

  • Founder yang sangat berpengalaman
  • Direktur yang paham industri luar-dalam
  • Sales leader yang dekat dengan problem klien

 

Namun akun LinkedIn mereka pasif atau hanya berisi repost company news. Padahal, di B2B, orang percaya pada orang sebelum percaya pada logo. Personal branding yang konsisten, tanpa harus menjadi “influencer”, bisa menjadi:

 

  • Sistem awareness organik
  • Penguat positioning brand
  • Bridging awal ke relasi bisnis

 


Kesalahan Umum Bisnis B2B di LinkedIn

 

Dari pengalaman menangani berbagai brand, ada beberapa kesalahan berulang:

 

1.Terlalu cepat menjual
LinkedIn bukan marketplace. Di TOFU, jualan langsung justru mematikan trust.

 

2. Nada komunikasi terlalu kaku
Profesional tidak berarti dingin. Insight personal justru lebih relatable.

 

3. Tidak konsisten
Posting sebulan sekali lalu berharap hasil jelas tidak realistis.

 

4. Mengabaikan data dan feedback
LinkedIn menyediakan analytics dasar yang sering tidak dimanfaatkan.

 


Kenapa Sekarang Waktu yang Tepat untuk Serius di LinkedIn

 

Ada tiga alasan utama mengapa saat ini merupakan momentum yang tepat untuk memaksimalkan manfaat LinkedIn untuk bisnis B2B:

 

1. Kompetisi konten masih longgar
Dibandingkan Instagram atau Google Ads, noise di LinkedIn B2B jauh lebih rendah.

 

2. Organik masih relevan
Dengan konten yang tepat, reach organik masih sangat mungkin tanpa budget besar.

 

3. Perubahan perilaku profesional pasca digital acceleration
Semakin banyak decision maker aktif mengonsumsi konten digital sebagai referensi bisnis.

 

Tentu itu semua adalah manfaat LinkedIn untuk bisnis B2B untuk membangun positioning sebelum menjadi red ocean.

 


LinkedIn sebagai Fondasi Awal Strategi Digital B2B

 

Dalam kerangka funnel, LinkedIn bekerja paling kuat di Top of Funnel:

 

  • Membangun awareness
  • Menanamkan positioning
  • Menghangatkan pasar sebelum masuk ke lead generation

 

LinkedIn bukan pengganti website, bukan pengganti sales, dan bukan satu-satunya channel. Namun, LinkedIn adalah fondasi awareness yang membuat channel lain bekerja lebih efektif.

 


Jangan Menunggu Terlalu Sempurna

 

Sebagai seseorang yang sudah cukup lama berada di kursi pengambil keputusan di perusahaan digital marketing agency, satu hal yang kami pelajari adalah:

 

brand yang menang bukan yang paling sempurna, tapi yang paling konsisten membangun relevansi.

 

LinkedIn memberi peluang besar bagi bisnis B2B untuk:

 

  • Dikenal lebih awal
  • Dipercaya lebih cepat
  • Diingat lebih lama

 

Dan peluang ini masih terbuka lebar, terutama bagi mereka yang mau mulai sekarang, dengan strategi yang benar. Jika Anda melihat LinkedIn hanya sebagai “pelengkap”, besar kemungkinan kompetitor Anda suatu hari akan melihatnya sebagai keunggulan utama.

 

 

Dik Dik Fahruddin About the author

Dik Dik Fahruddin adalah Chief Digital Marketing Officer & Founder Krona Digital Jaya Inti, dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di SEO, Ads dan channel digital marketing lainnya untuk berbagai big brand dan corporate seperti Honda, Chubb, Mandiri Sekuritas, PGN PLI, PAMA Persada dan lain-lain.