Title Image

Memahami Cultural Marketing dan Cara Memaksimalkannya

Cultural marketing memberikan “pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana marketplace dari sebuah produk dan layanan itu berubah, ketika konteks dan asumsi konsumen berubah, hal itu menjadi sebuah peluang bagi marketplace untuk tumbuh.” (Forbes)

 

Dalam menjalin hubungan dengan konsumen, penting untuk mengetahui tempat asal mereka (demografi) dan budaya yang penting bagi mereka. Marketing yang baik, berawal dari dialog antara perusahaan dan konsumennya.

 

Marketer sebaiknya bisa meningkatkan kesadaran akan sebuah budaya dan nilai-nilai yang memotivasi terjadinya perubahan budaya. Marketer juga bisa mengamati sebuah budaya dengan baik, sehingga dapat mengantisipasi isu-isu penting yang mungkin terjadi di masa depan.

 

 

Memahami Cultural Marketing

 

Cultural Marketing

 

 

Banyak orang menganggap cultural marketing sebagai cara mempromosikan produk atau jasa kepada target market dari budaya dan demografi yang berbeda. Tetapi lebih dari itu, cultural marketing merupakan respons dan kontribusi dari brand terhadap sebuah budaya.

 

Cultural marketing merupakan bentuk marketing inklusif. Marketing yang ditujukan kepada target market dengan budaya, minat, dan kebutuhan yang berbeda lalu menghubungkannya ke dalam budaya dan nilai perusahaan.

 

Bentuk dari cultural marketing tidak harus sebagai perubahan sosial yang besar. Tetapi bisa dengan memanfaatkan sebuah momentum dari budaya yang ada ke dalam marketing.

 

Cultural marketing berfokus pada isu yang ada pada sebuah budaya. Salah satu cara terbaik untuk menghubungkan brand dengan konsumen dan untuk target market baru.

 

Penelitian dari Accenture menyatakan bahwa 53% dari kita lebih suka membeli dari perusahaan yang mencerminkan nilai dan keyakinan yang sama dengan diri kita.

 

 

Langkah dalam melakukan Cultural Marketing

 

 

1. Mengikuti perubahan budaya

 

Menyadari dan tetap mencari tahu akan budaya dan perubahannya yang ada pada masyarakat dan perusahaan.

 

2. Berkontribusi kepada masyarakat

 

Melakukan kontribusi dengan menyebarkan data atau informasi melalui publikasi. Memilih topik yang relevan dengan target market ke dalam publikasi. Sehingga, dapat menyesuaikan budaya yang ada pada masyarakat dengan budaya perusahaan.

 

3. Membangun kepercayaan

 

Dengan memiliki tujuan dan nilai perusahaan yang jelas, konsumen cenderung memiliki kepercayaan lebih besar. Konsumen kerap kali ingin tahu bahwa brand yang dibeli memiliki nilai yang sama dengan mereka. Seperti, perusahaan menerbitkan peraturan tentang kesetaraan gender.

 

 

Praktik Cultural Marketing dalam sebuah Brand

 

 

 

Dove, sebuah brand yang membuat kampanye ‘real beauty‘. Menjelaskan tentang perempuan yang kerap kali merasa tidak aman dan tidak percaya diri terhadap fisik mereka. Karena standar cantik yang dibuat kebanyakan brand kecantikan demi mendapat keuntungan.

 

Dari kampanye ini, Dove seolah sadar dan memahami sebuah isu tentang trend budaya yang berkembang di masyarakat. Dove berperan seakan menjadi inisiator dan memimpin pergerakan dalam perubahan budaya.

 

Dove berpartisipasi dalam gerakan cultural melalui kampanye ‘real beauty. Dan dinilai mampu menghubungkan brand dan konsumen dengan menjelaskan isu dari trend budaya kecantikan melalui cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

 

Selain itu, terdapat brand yang gagal dalam melakukan cultural marketing. Seperti yang terjadi pada Pepsi yang mengangkat kampanye Black Lives Matter.

 

Iklan dari kampanye tersebut mendapat banyak kritik dan respon negatif karena dinilai meremehkan gerakan Black Lives Matter dan mendukung kebrutalan polisi.

 

 

Kesimpulan

 

Cultural Marketing

 

Membangun kesadaran dengan memperhatikan sebuah pergeseran budaya, dapat membantu marketer membuat keputusan dalam berhubungan dengan konsumen. Cultural marketers sebaiknya berusaha untuk mengikuti gerakan dan trend  dalam budaya yang berlaku. 

 

Marketers perlu untuk membantu perusahaan dalam membentuk dan menciptakan sebuah budaya daripada hanya menanggapi kebutuhan dan perilaku konsumen yang bersifat sementara. 

 

Luangkan waktu untuk mencari tahu dan memikirkan budaya dari target market Anda dan pahami nilai-nilai dari perusahaan dengan sangat jelas. Dengan kita menyadari terjadinya pergeseran budaya dan perubahan trend, menjadi kunci untuk staying relevant

 

 

Qonita Imania Assilah About the author

As a graduate of Communication Science who is then continuing her master degree in Media and Communication study at Airlangga University, Qonita has gained interest in Public Relations, Journalism and Media Relations. As a result, her passion encourages her to become a writer.