Title Image

E-Commerce dan K-Pop: Alasan Lengketnya Dua Fenomena Modern

 

E-Commerce dan K-pop, dua hal yang bergerak di bidang yang sangat berbeda namun sama-sama sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini.

 

Lucunya, E-Commerce dan K-pop akhir-akhir ini bak sahabat karib.Mungkin Marketers sudah bisa melihat sendiri bagaimana berbagai perusahaan E-Commerce di Indonesia mengajak musisi-musisi K-Pop untuk tampil di acara spesial mereka, sampai menjadi brand ambassador.

 

Demam K-Pop dan K-Drama yang biasa dijuluki sebagai Korean Wave atau Hallyu memang sedang menyapu dunia. Dengan popularitas yang kian meningkat, musik dan selebritas korea pun kin memiliki pengaruh yang kuat terhadap perilaku konsumen di Asia dan belahan dunia lain, tak terkecuali Indonesia.

 

Tak heran mengapa masyarakat Indonesia banyak yang terbawa arus Korean Wave. Dikatakan bahwa masyarakat Indonesia memang menyukai hal-hal yang berbau global, namun tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Hiburan yang ditawarkan korea sepertinya memiliki rasio yang pas bagi publik di Indonesia. Global, dihiasi dengan nilai-nilai dan kebudayaan timur yang digemari masyarakat lokal.

 

Akan tetapi, tentunya bukan hanya hal itu yang membuat E-Commerce berbondong bondong ingin “menunggangi” Korean Wave. Yuk, telaah bersama!

 

 

 

Pengguna E-Commerce dan Fans K-Pop di Indonesia

k-pop dan e-commerce

 

 

Pada semester pertama tahun 2021 Twitter mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penggemar K-Pop terbanyak. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa diantara 7,5 Miliar cuitan tentang K-Pop pada tahun 2020-2021, Indonesia menyumbangk jumlah cuitan yang paling besar.

 

K-Pop biasanya digemari oleh generasi yang lebih muda, begitu juga dengan sebagian besar pengguna E-Commerce. Sebagaian besar pengguna E-Commerce adalah masyarakat Indonesia yang masih mudah dan melek teknologi.

 

Karakter lain dari generasi millenial dan generasi Z adalah mereka kerap mengidolakan selibiriti dan influencer. Menurut sensus tahun 2020, penduduk Indonesia kini didominasi oleh milenial (23,87%) dan generasi Z (27,94%). Melihat fakta ini, masuk akal apabila menggunakan brand ambassador yang diidolakan oleh mereka.

 

Jumlah penjualan di E-Commerce mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tahun 2020 kemarin, terdapat kenaikan nominal transaksi e-commerce 29,6% dari Rp 205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp 266,3 triliun, Walaupun belum ada data yang menunjukkan hubungan kenaikan penjualan ini  dengan hadirnya para brand ambassador dari industri musik negara ginseng tersebut.

 

 

 

E-commerce dan K-Pop: Kenapa Makin Lama Makin Lengket?

k-pop dan e-commerce

 

 

Sigap menanggapi riak heboh Korean Wave, berbagai platform E-Commerce di Indonesia satu-persatu menunjuk berbagai selebritas Korea kesayangan masyarakat untuk menjadi brand ambassador, atau mungkin hanya sekedar mampir di acara-acara spesial yang mereka adakan.

 

Pertama, Shopee Indonesia mengajak BLACKPINK sebagai brand ambassador mereka, diikuti oleh Tokopedia yang memilih BTS pada tahun selanjutnya. Belakangan platform E-Commerce mulai mempertimbangkan aktor sebagai brand ambassador mereka, seperti Blibli dengan Park Seo Joon dan Lazada dengan aktor drama papan atas, Lee Min Ho.

 

 

Makin Populer, Makin Banyak Keuntungan

 

Poin ini tentunya sudah wajar dinginkan oleh usaha manapun. Tak lama setelah mulai mengkorporasikan selebritis korea dalam strategi marketing mereka, Shopee Indonesia berhasil membalap popularitas Bukalapak pada tahun 2019 silam.

 

Tahun berikutnya Tokopedia ikut maju dan sempat menduduki posisi pertama. Dengan menggandeng BTS, Tokopedia sempat mengalahkan popularitas Shopee pada awal tahun 2020 silam.

 

Walaupun kini Shopee kembali menduduki tingkat pertama, Tokopedia berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan dari festival belanja Waktu Indonesia Belanja (WIB) yang diadakan Juli lalu.

 

Acara puncak dari WIB saat itu disaksikan oleh satu dari empat penonton televisi di Indonesia. Tokopedia pun mendapatkan hingga 5 juta pengunjung pada malam puncak, dan 100 juta kali selama periode festival yang berlangsung selama 4 hari, diiringi dengan jumlah pembelian yang berlipat ganda,

 

 

Menggaet yang Muda Sejak Dini

 

Ahli menyebutkan bahwa K-Pop digemari oleh kawula muda di Indonesia karena menyediakan sebuah ruang bagi mereka untuk “melarikan diri,” terlebih lagi di masa pandemi dimana kegiatan yang dapat dilakukan semakin terbatas. K-Pop juga memberikan sense of belonging bagi mereka, dimana sesama penggemar biasanya akan berkumpul dan membicarakan selebriti yang mereka gemari.

 

Walaupun masih tergolong pendatang baru dalam angkatan kerja, generasi Z dan milenial adalah generasi yang paling banyak melakukan transaksi di berbagai E-Commerce. 49% transaksi di E-Commerce dilakukan oleh milenial, sedangkan 36% berasal dari generasi Z.

 

Disebutkan juga transaksi pada kategori fashion mencapai 30%  dan jumlah transaksi kesehatan dan kecantikan mencapai angka 16% dari total transaksi yang ada di berbagai platform E-Commerce.

 

Marketers mungkin sudah tahu bahwa tujuan akhir dari berbagai brand adalah untuk menjadi top of mind. Dengan berlomba-lomba untuk menjadi pilihan utama generasi muda, tentunya dalam jangka panjang E-Commerce tersebut akan memiliki kesempatan untuk menjadi platform top of mind.

 

 

Ambisi yang Tinggi

 

Mungkin para E-Commerce yang menggunakan brand ambassador selebritas korea sudah terkenal indonesia, namun belum tentu mereka terkenal di luar negeri.

 

Wajar saja apabila E-Commerce ingin menjabah pasar dunia. Menggunakan brand ambassador yang memiliki audiens global adalah strategi yang cukup cerdas untuk memperkenalkan platform mereka ke kancah internasional. Masih ingat artikel kami mengenai pentingnya membangun brand awareness dengan menggunakan macro influencers, bukan?

 

Hal ini dikonfirmasi oleh pendiri Tokopedia,W illiam Tanuwijaya, yang sempat memberikan pernyataan pada Rapat Kemenkop UKM November 2019 silam. Saat awal kerjasamanya dengan boyband BTS, William mengungkapkan “dari sisi brand ambassador, kami sudah memilih yang bisa membawa nama Tokopedia di panggung dunia.” Tegasnya.

 

Tokopedia dikatakan bermaksud untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2021 ini.

 

 

 

 

 

Annisa Shafira About the author

Annisa is a Public Relations graduate from Universitas Padjadjaran and a self-proclaimed avid diarist. Her interest in writing sparked when she was a Journalist Intern in DetikCom, since then she has been passionately pouring her thoughts into writings.